ORANGTUA DAN PERKEMBANGAN MORAL

Dalam usaha membentuk tingkah laku sebagai pencerminan nilai-nilai hidup tertentu, banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan moral, diantaranya yaitu:

  1. Faktor tingkat harmonisasi hubungan antara orang tua dan anak.
  2. Faktor seberapa banyak model (orang-orang dewasa yang simpatik, teman-teman,
    orang-orang yang terkenal dan hal-hal lain) yang diidentifikasi oleh anak sebagai
    gambaran-gambaran ideal.
  3. Faktor lingkungan memegang peranan penting. Diantara segala unsur
    lingkungan sosial yang berpengaruh, yang tampaknya sangat penting adalah
    unsur lingkungan berbentuk manusia yang langsung dikenal atau dihadapi oleh
    seseorang sebagai perwujudan dari nilai-nilai tertentu.
  4. Faktor selanjutnya yang memengaruhi perkembangan moral adalah tingkat
    Perkembangan moral yang sifatnya penalaran menurut Kohlberg,
    dipengaruhi oleh perkembangan nalar sebagaimana dikemukakan oleh Piaget.
    Makin tinggi tingkat penalaran seseorang menrut tahap-tahap perkembangan
    Piaget, makin tinggi pula tingkat moral seseorang.
  5. Faktor Interaksi sosial dalam memberi kesepakatan pada anak untuk
    mempelajari dan menerapkan standart perilaku yang disetujui masyarakat,
    keluarga, sekolah, dan dalam pergaulan dengan orang lain.

 Karakteristik Perkembangan Moral

Karakteristik yang menonjol dalam perkembangan moral remaja adalah bahwa sesuai dengan tingkat perkembangan kognisi yang mulai mencapai tahapan berfikir operasional formal, yaitu mulai mampu berpikir abstrak dan mampu memecahkan masalah-masalah yang bersifat hipotetis maka pemikiran remaja terhadap suatu permasalahan tidak lagi hanya terikat pada waktu, tempat, dan situasi, tetapi juga pada sumber moral yang menjadi dasar hidup mereka (Gunarsa,1988).

Perkembangan pemikiran moral remaja dicirikan dengan mulai tumbuh kesadaran akan kewajiban mempertahankan kekuasaan dan pranata yang ada karena dianggap sebagai suatu yang bernilai, walau belum mampu mempertanggung jawabkannya secara pribadi (Monks, 1988).

Perkembangan moral remaja yang demikian, jika meminjam teori perkembangan moral dari Kohlberg berarti sudah mencapai tahap konvensioanl. Pada akhir masa remaja seseorang akan memasuki tahap perkembangan pemikiran moral yang disebut tahap pascakonvensional ketika orisinilitas pemikiran moral remaja sudah semakin jelas.

Pemikiran moral remaja berkembang sebagai pendirian pribadi yang tidak tergantung lagi pada pendapat atau pranata yang bersifat konvensional.

Keragaman tingkat moral remaja disebabkan oleh faktor penentunya yang beragam juga. Salah satu faktor penentu atau yang mempengaruhi perkembangan moral remaja itu adalah orangtua.

Menurut Adam dan Gullotta (1983) terdapat beberapa hasil penelitian yang menunjukkan bahwa orangtua mempengaruhi nilai remaja, yaitu sebagai berikut:

  1. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat moral remaja dengan tingkat moral orangtua
  2. Ibu-ibu remaja yang tidak nakal mempunyai skor yang lebih tinggi dalam tahapan nalar moralnya daripada ibu-ibu yang anaknya nakal, dan remaja yan tidak nakal mempunyai skor lebih tinggi dalam kemampuan nalar moralnya dari pada remaja yang nakal
  3. Terdapat dua faktor yang dapat meningkatkan perkembangan moral anak atau remaja, yaitu:
  • Orangtua yang mendorong anak untuk berdiskusi secara demokratik terbuka mengenai berbagai isu,
  • Orangtua yang menerapkan disiplin terhadap anak dengan teknik berpikir induktif

Ada beberapa pokok utama yang perlu dipelajari oleh anak dalam mengoptimalkan perkembangan moralnya, yaitu:

  1. Mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya sebagaimana dicantumkan dalam hukum. Harapan tersebut terperinci dalam bentuk hukum, kebiasaan dan peraturan. Tindakan tertentu yang dianggap“benar” atau “salah” karena tindakan itu menunjang, atau dianggap tidak menunjang, atau menghalangi kesejahteraan anggota kelompok. Kebiasaan yang paling penting dibakukan menjadi peraturan hukum dengan hukuman tertentu bagi yang melanggarnya.
  2. Pengambangan hati nurani sebagai kendali internal bagi perliaku individu. Hati nurani merupakan tanggapan terkondisikan terhadap kecemasan mengenai beberapa situasi dan tindakan tertentu, yang telah dikembangkan dengan mengasosiasikan tindakan agresif dengan hukum.
  3. Pengembangan perasaan bersalah dan rasa malu. Setelah mengembangkan hati nurani, mereka dibawa dan digunakan sebagai pedoman perilaku. Rasa bersalah adalah sejenis evaluasi diri, khusus terjadi bila seorang individu mengakui perilakunya berbeda dengan nilai moral yang dirasakannya wajib untuk dipenuhi. Rasa malu adalah reaksi emosional yang tidak menyenangkan yang timbul pada seseorang akibat adanya penilaian negatif terhadap dirinya.
  4. Mencontohkan, memberikan contoh berarti menjadi model perilaku yang diinginkan muncul dari anak, karena cara ini bisa menjadi cara yang paling efektif untuk membentuk moral anak.
  5. Latihan dan Pembiasaan, menurut dan pembiasaan merupakan strategi penting dalam pembentukan perilaku moral pada anak usia dini. Sikap orang tua dapat dijadikan latihan dan pembiasaan bagi anak. Sejak kecil orang tua selalu merawat, memelihara, menjaga kesehatan dan lain sebagainya untuk anak.

Kesempatan melakukan interaksi dengan anggota kelompok sosial. Interaksi sosial memegang peranan penting dalam perkembangan moral. Tanpa interaksi dengan orang lain, anak tidak akan mengetahui perilaku yang disetujui secara sosial, maupun memiliki sumber motivasi yang mendorongnya untuk tidak berbuat sesuka hati. Interaksi sosial awal terjadi didalam kelompok keluarga.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Moral

Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya. Anak memperoleh nilai nilai moral dari lingkungannya, terutama dari orangtuanya. Dia belajar untuk mengenal nlai-nilai dan berprilaku sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Dalam mengembangkan nilai moral anak, peranan orangtua sangatlah penting, terutama pada waktu anak masih kecil. Beberapa sikap orangtua yang perlu diperhatikan sehubungan dengan perkembangan moral anak, diantaranya sebagai berikut :

  1. Konsisten dalam mendidik anak

Ayah dan ibu harus memiliki sikap dan perlakuan yang sama dalam melarang atau membolehkan tingkah laku tertentu kepada anak. Suatu tingkah laku anak yang dilarang oleh orangtua pada suatu waktu, harus juga dilarang apabila dilakukan pada waktu lain.

  1. Sikap orangtua dalam keluarga Secara tidak langsung, sikap orangtua terhadap anak, sikap ayah terhadap ibu, atau sebaliknya, dapat mempengaruhi perkembangan moral anak, yaitu melalui proses peniruan (imitasi). Sikap orangtua yang keras (otoriter) cenderung melahirkan sikap disiplin semu pada anak, sedangkan sikap yang acuh tak acuh atau sikap masa bodoh, cenderung mengembangkan sikap kurang bertanggungjawab dan kurang mempedulikan norma pada diri anak. Sikap yang sebaiknya dimiliki oleh orangtua adalah sikap kasih sayang, keterbukaan, musyawarah (dialogis). Interaksi dalam keluarga turut mempengaruhi perkembangan moral anak
  2. Penghayatan dan pengamalan agama yang dianut Orangtua merupakan panutan (teladan) bagi anak, termasuk disini panutan dalam mengamalkan ajaran agama. Orangtua yang menciptakan iklim yang religius (agamis), dengan cara memberikan ajaran atau bimbingan tentang nilai-nilai agama kepada anak, maka anak akan mengalami perkembangan moral yang baik.
  3. Sikap konsisten orangtua dalam menerapkan norma Orangtua yang tidak menghendaki anaknya berbohong, atau berlaku tidak jujur, maka mereka harus menjauhkan dirinya dari prilaku berbohong atau tidak jujur. Dalam usaha membentuk tingkah laku sebagai pencerminan nilai-nilai hidup tertentu, Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan moral peserta didik, diantaranya yaitu:
    • Faktor tingkat harmonisasi hubungan antara orang tua dan anak.
    • Faktor seberapa banyak model (orang-orang dewasa yang simpatik, teman-teman, orang-orang yang terkenal dan hal-hal lain) yang diidentifikasi oleh anak sebagai gambaran-gambaran ideal.
    • Faktor lingkungan memegang peranan penting. Diantara segala unsur lingkungan sosial yang berpengaruh, yang tampaknya sangat penting adalah unsur lingkungan berbentuk manusia yang langsung dikenal atau dihadapi oleh seseorang sebagai perwujudan dari nilai-nilai tertentu.
    • Faktor selanjutnya yang memengaruhi perkembangan moral adalah tingkat penalaran. Perkembangan moral yang sifatnya penalaran menurut Kohlberg, dipengaruhi oleh perkembangan nalar sebagaimana dikemukakan oleh Piaget. Makin tinggi tingkat penalaran seseorang menurut tahap-tahap perkembangan Piaget, makin tinggi pula tingkat moral seseorang.
    • Faktor Interaksi sosial dalam memberi kesepakatan pada anak untuk mempelajari dan menerapkan standart perilaku yang disetujui masyarakat, keluarga, sekolah, dan dalam pergaulan dengan orang lain.

100_3486

Advertisements

NIKON tipe D850

d850_logo

Nikon mengumumkan DSLR full frame terbarunya, yakni tipe D850. Kamera ini dibekali dengan spesifikasi tinggi, salah satunya adalah sensor CMOS tipe back-side illuminated yang memiliki ketajaman 45,7 megapiksel.

Tipe sensor ini diyakini bakal membuat kamera bisa menangani situasi low light dengan baik, meski ukuran megapikselnya sangat tinggi. Sebagaimana diketahui, biasanya tingginya hitungan megapiksel menjadi indikator rendahnya kualitas pengambilan gambar dalam kondisi low light.

d850-body-9

Nikon D850 juga dibekali otak pemrosesan gambar teratasnya, yakni Expeed 5. Perusahaan asal Jepang ini sengaja melepas low pass filter, yang biasa digunakan untuk mengurangi efek moire. Tanpa adanya filter ini, maka foto yang dihasilkan mestinya akan sangat detil.

Kemampuan Nikon D850 lainnya adalah soal perekaman video. Kamera ini mampu merekam video 4K UHD dalam 30 atau 24 frame per detik, dan video 1080p dengan frame rate maksimal 120 frame per detik. Ada juga kemampuan merekam video timelapse 8K.

d850-body-5

Soal fitur pendukung pemotretan, Nikon D850 dibekali dengan 153 titik autofocus (99 cross type), sebagaimana yang dipakainya di tipe D5. Nikon D850 juga mampu menjepret dengan kecepatan 7 frame per detik pada resolusi penuh 45,7 megapiksel. Kamera baru akan mengalami buffer setelah pengguna menjepret 51 foto RAW 14-bit, atau 170 foto 12-bit.

Nikon D850 bisa diatur agar memotret tanpa bunyi (silent), memiliki satu slot memori XQD dan satu SD, baterai yang sanggup menopang 1.800 jepretan foto atau 70 menit video, serta memiliki sebuah layar LCD 3.2 inci yang bisa ditekuk. Untuk urusan konektivitas, Nikon membekali kamera ini dengan WiFi, Bluetooth, serta Snapbridge.

Nikon D850 akan dijual dengan harga 3.299 dollar AS atau setara Rp 44 juta. Harga itu hanya untuk pembelian body Nikon D850, belum termasuk lensa.

 

SPESIFIKASI :

 

Type of camera
Type Single-lens reflex digital camera
Lens mount Nikon F mount (with AF coupling and AF contacts)
Effective angle of view Nikon FX format
Effective pixels
Effective pixels 45.7 million
Image sensor
Image sensor 35.9 x 23.9 mm CMOS sensor
Total pixels 46.89 million
Dust-reduction system Image sensor cleaning, Image Dust Off reference data (Capture NX-D software required)
Storage
Image size (pixels)
  • FX (36×24) image area: 8256 x 5504 (L: 45.4 million), 6192 x 4128 (M: 25.6 million), 4128 x 2752 (S: 11.4 million)
  • 1.2x (30×20) image area: 6880 x 4584 (L: 31.5 million), 5152 x 3432 (M: 17.6 million), 3440 x 2288 (S: 7.8 million)
  • DX (24×16) image area: 5408 x 3600 (L: 19.4 million), 4048 x 2696 (M: 10.9 million), 2704 x 1800 (S: 4.8 million)
  • 5 : 4 (30×24) image area: 6880 x 5504 (L: 37.8 million), 5152 x 4120 (M: 21.2 million), 3440 x 2752 (S: 9.4 million)
  • 1 : 1 (24×24) image area: 5504 x 5504 (L: 30.2 million), 4128 x 4128 (M: 17.0 million), 2752 x 2752 (S: 7.5 million)
  • FX-format photographs taken during movie recording: 8256 x 4640 (L: 38.3 million), 6192 x 3480 (M: 21.5 million), 4128 x 2320 (S: 9.5 million)
  • DX-format photographs taken during movie recording: 5408 x 3040 (L: 16.4 million), 4048 x 2272 (M: 9.1 million), 2704 x 1520 (S: 4.1 million)
File format
  • NEF (RAW): 12 or 14 bit (lossless compressed, compressed or uncompressed); large, medium and small available (medium and small images are recorded at a bit depth of 12 bits using lossless compression)
  • TIFF (RGB)
  • JPEG: JPEG-Baseline compliant with fine (approx. 1 : 4), normal (approx. 1 : 8) or basic (approx. 1 : 16) compression; optimal quality compression available
  • NEF (RAW)+JPEG: Single photograph recorded in both NEF (RAW) and JPEG formats
Picture Control system Auto, Standard, Neutral, Vivid, Monochrome, Portrait, Landscape, Flat; selected Picture Control can be modified; storage for custom Picture Controls
Media XQD and SD (Secure Digital) and UHS-II compliant SDHC and SDXC memory cards
Dual card slots Either card can be used for primary or backup storage or for separate storage of NEF (RAW) and JPEG images; pictures can be copied between cards
File system DCF 2.0, Exif 2.31, PictBridge
Viewfinder
Viewfinder Eye-level pentaprism single-lens reflex viewfinder
Frame coverage
  • FX (36×24): Approx. 100% horizontal and 100% vertical
  • 1.2x (30×20): Approx. 97% horizontal and 97% vertical
  • DX (24×16): Approx. 97% horizontal and 97% vertical
  • 5:4 (30×24): Approx. 97% horizontal and 100% vertical
  • 1:1 (24×24): Approx. 97% horizontal and 100% vertical
Magnification Approx. 0.75x (50 mm f/1.4 lens at infinity, -1.0 m-1)
Eyepoint 17 mm (-1.0 m-1; from center surface of viewfinder eyepiece lens)
Diopter adjustment -3 to +1 m-1
Focusing screen Type B BriteView Clear Matte Mark VIII screen with AF area brackets (framing grid can be displayed)
Reflex mirror Quick return
Depth-of-field preview Pressing Pv button stops lens aperture down to value selected by user (A and M modes) or by camera (P and S modes)
Lens aperture Instant return, electronically controlled
Lens
Compatible lenses Compatible with AF NIKKOR lenses, including type G, E and D lenses (some restrictions apply to PC lenses), and DX lenses [using DX (24×16) image area], AI-P NIKKOR lenses, and non-CPU AI lenses (exposure modes A and M only); IX-NIKKOR lenses, lenses for the F3AF, and non-AI lenses cannot be used
The electronic rangefinder can be used with lenses that have a maximum aperture of f/5.6 or faster (the electronic rangefinder supports 15 focus points with lenses that have a maximum aperture of f/8 or faster, of which 9 points are available for selection)
Shutter
Type Electronically controlled vertical-travel focal-plane mechanical shutter; electronic front-curtain shutter available in quiet shutter-release, quiet continuous shutter-release and mirror up release modes
Speed 1/8000 to 30 s in steps of 1/3, 1/2 or 1 EV, bulb, time, X250
Flash sync speed X=1/250 s; synchronizes with shutter at 1/250 s or slower; auto FP high-speed sync supported
Release
Release modes S (single frame), CL (continuous low speed), CH (continuous high speed), Q (quiet shutter-release), QC (quiet continuous shutter-release), Self-timer, MUP (mirror up)
Approximate frame advance rate
  • With an EN-EL18b battery inserted in an MB-D18 battery pack
    CL: 1 to 8 fps, CH: 9 fps, QC: 3 fps
  • Other power sources
    CL: 1 to 6 fps, CH: 7 fps, QC: 3 fps
Self-timer 2 s, 5 s, 10 s, 20 s; 1 to 9 exposures at intervals of 0.5, 1, 2 or 3 s
Exposure
Metering system TTL exposure metering using RGB sensor with approx. 180K (180,000) pixels
Metering modes
  • Matrix: 3D color matrix metering III (type G, E and D lenses); color matrix metering III (other CPU lenses); color matrix metering available with non-CPU lenses if user provides lens data
  • Center-weighted: Weight of 75% given to 12 mm circle in center of frame; diameter of circle can be changed to 8, 15 or 20 mm, or weighting can be based on average of entire frame (non-CPU and AF-S Fisheye NIKKOR 8-15mm f/3.5-4.5E ED lenses use 12-mm circle)
  • Spot: Meters 4 mm circle (about 1.5% of frame) centered on selected focus point (on center focus point when non-CPU or AF-S Fisheye NIKKOR 8-15mm f/3.5-4.5E ED lens is used)
  • Highlight-weighted: Available with type G, E and D lenses
Range
(ISO 100, f/1.4 lens, 20°C/68°F)
  • Matrix or center-weighted metering: -3 to 20 EV
  • Spot metering: 2 to 20 EV
  • Highlight-weighted metering: 0 to 20 EV
Exposure meter coupling Combined CPU and AI
Modes Programmed auto with flexible program (P); shutter-priority auto (S); aperture-priority auto (A); manual (M)
Exposure compensation -5 to +5 EV in increments of 1/3, 1/2 or 1 EV
Exposure lock Luminosity locked at detected value
ISO sensitivity
(Recommended Exposure Index)
ISO 64 to 25600 in steps of 1/3, 1/2 or 1 EV; can also be set to approx. 0.3, 0.5, 0.7 or 1 EV (ISO 32 equivalent) below ISO 64 or to approx. 0.3, 0.5, 0.7, 1 or 2 EV (ISO 102400 equivalent) above ISO 25600; auto ISO sensitivity control available
Active D-Lighting Can be selected from auto, extra high, high, normal, low or off
Focus
Autofocus Multi-CAM 20K autofocus sensor module with TTL phase detection, fine-tuning and 153 focus points (including 99 cross-type sensors and 15 sensors that support f/8), of which 55 (35 cross-type sensors and 9 f/8 sensors) are available for selection
Detection range -4 to +20 EV (ISO 100, 20°C/68°F)
Lens servo
  • Autofocus (AF): Single-servo AF (AF-S); continuous-servo AF (AF-C); predictive focus tracking automatically activated according to subject status
  • Manual focus (M): Electronic rangefinder can be used
Focus point 153 focus points, of which 55 or 15 are available for selection
AF-area modes Single-point AF, 9-, 25-, 72- or 153-point dynamic-area AF, 3D-tracking, group-area AF, auto-area AF
Focus lock Focus can be locked by pressing shutter-release button halfway (single-servo AF) or by pressing the center of the sub-selector
Flash
Flash control TTL: i-TTL flash control using RGB sensor with approx. 180K (180,000) pixels; i-TTL balanced fill-flash for digital SLR is used with matrix, center-weighted and highlight-weighted metering, standard i-TTL fill-flash for digital SLR with spot metering
Flash modes Front-curtain sync, slow sync, rear-curtain sync, red-eye reduction, red-eye reduction with slow sync, slow rear-curtain sync, off
Flash compensation -3 to +1 EV in increments of 1/3, 1/2 or 1 EV
Flash-ready indicator Lights when optional flash unit is fully charged; flashes after flash is fired at full output
Accessory shoe ISO 518 hot-shoe with sync and data contacts and safety lock
Nikon Creative Lighting
System (CLS)
i-TTL flash control, radio-controlled Advanced Wireless Lighting, optical Advanced Wireless Lighting, modeling illumination, FV lock, color information communication, auto FP high-speed sync, AF-assist for multi-area AF, unified flash control
Sync terminal ISO 519 sync terminal with locking thread
White balance
White balance Auto (3 types), natural light auto, incandescent, fluorescent (7 types), direct sunlight, flash, cloudy,shade, preset manual (up to 6 values can be stored, spot white balance measurement available during live view), choose color temperature (2500 K to 10000 K), all with fine-tuning
Bracketing
Bracketing types Exposure, flash, white balance and ADL
Live view
Modes Photo live view, movie live view
Lens servo
  • Autofocus (AF): Single-servo AF (AF-S); full-time-servo AF (AF-F)
  • Manual focus (M)
AF-area modes Face-priority AF, wide-area AF, normal-area AF, pinpoint AF, subject-tracking AF
Autofocus Contrast-detect AF anywhere in frame (camera selects focus point automatically when face-priority AF or subject-tracking AF is selected)
Movie
Metering system TTL exposure metering using main image sensor
Metering modes Matrix, center-weighted or highlight-weighted
Frame size (pixels) and frame rate
  • 3840 x 2160 (4K UHD); 30p (progressive), 25p, 24p
  • 1920 x 1080; 60p, 50p, 30p, 25p, 24p
  • 1280 x 720; 60p, 50p
  • 1920 x 1080 (slow-mo); 30p x4, 25p x4, 24p x5

Actual frame rates for 60p, 50p, 30p, 25p and 24p are 59.94, 50, 29.97, 25 and 23.976 fps respectively; quality selection available at all sizes except 3840 x 2160 (when quality is fixed at ★) and 1920 x 1080 slow-mo (when quality is fixed at “normal”)

File format MOV, MP4
Video compression H.264/MPEG-4 Advanced Video Coding
Audio recording format Linear PCM, AAC
Audio recording device Built-in stereo or external microphone; sensitivity adjustable
ISO sensitivity (Recommended Exposure Index)
  • Exposure modes P, S and A: Auto ISO sensitivity control (ISO 64 to Hi 2) with selectable upper limit
  • Exposure mode M: Auto ISO sensitivity control (ISO 64 to Hi 2) available with selectable upper limit; manual selection (ISO 64 to 25600 in steps of 1/3, 1/2 or 1 EV) with additional options available equivalent to approx. 0.3, 0.5, 0.7, 1 or 2 EV (ISO 102400 equivalent) above ISO 25600
Active D-Lighting Can be selected from same as photo settings, extra high, high, normal, low or off
Maximum recording length 29 min. 59 s
Other options Index marking, time-lapse movies, electronic vibration reduction
Monitor
Monitor 8-cm/3.2-in., approx. 2359k-dot (XGA) tilting TFT touch-sensitive LCD with 170° viewing angle, approx. 100% frame coverage, and manual monitor brightness control
Playback
Playback Full-frame and thumbnail (4, 9 or 72 images) playback with playback zoom, playback zoom cropping, movie playback, photo and/or movie slide shows, histogram display, highlights, photo information, location data display, picture rating and auto image rotation
Interface
USB SuperSpeed USB (USB 3.0 Micro-B connector); connection to built-in USB port is recommended
HDMI output Type C HDMI connector
Audio input Stereo mini-pin jack (3.5-mm diameter; plug-in power supported)
Audio output Stereo mini-pin jack (3.5-mm diameter)
Ten-pin remote terminal Can be used to connect optional MC-30A/MC-36A Remote Cord, ML-3 Modulite Remote Control Set, WR-R10 (requires WR-A10 Wireless Remote Adapter) or WR-1 Wireless Remote Controller, GP-1/GP-1A GPS Unit
Wireless/Bluetooth
Wireless
  • Standards: IEEE 802.11b, IEEE 802.11g
  • Operating frequency: 2412 to 2462 MHz (channels 1 to 11)
  • Maximum output power: 8.5 dBm (EIRP)
  • Authentication: Open system, WPA2-PSK
Bluetooth
  • Communication protocols: Bluetooth Specification Version 4.1
  • Operating frequency: 2402 to 2480 MHz (Bluetooth), 2402 to 2480 MHz (Bluetooth Low Energy)
Range (line of sight) Approx. 10 m/32 ft without interference; range may vary with signal strength and presence or absence of obstacles
Supported languages
Supported languages

Arabic, Bengali, Bulgarian, Chinese (Simplified and Traditional), Czech, Danish, Dutch, English, Finnish, French, German, Greek, Hindi, Hungarian, Indonesian, Italian, Japanese, Korean, Marathi, Norwegian, Persian, Polish, Portuguese (Portugal and Brazil), Romanian, Russian, Serbian, Spanish, Swedish, Tamil, Telugu, Thai, Turkish, Ukrainian, Vietnamese

Power source
Battery One EN-EL15a/EN-EL15* Rechargeable Li-ion Battery
Battery pack Optional MB-D18 Multi-Power Battery Pack with one EN-EL18b/EN-EL18a/EN-EL18* Rechargeable Li-ion Battery (available separately), one EN-EL15a/EN-EL15* Rechargeable Li-ion Battery or eight AA alkaline, Ni-MH or lithium batteries; an MH-26a/MH-26 Battery Charger and BL-5 Battery Chamber Cover (both available separately) are required when using EN-EL18b/EN-EL18a/EN-EL18* batteries
AC adapter EH-5c/EH-5b AC Adapter; requires EP-5B Power Connector (available separately)
Tripod socket
Tripod socket 1/4 in. (ISO 1222)
Dimensions/weight
Dimensions
(W x H x D)
Approx. 146 x 124 x 78.5 mm/5.8 x 4.9 x 3.1 in.
Weight Approx. 1005 g/2 lb 3.5 oz with battery and XQD memory card but without body cap; approx. 915 g/2 lb 0.3 oz (camera body only)
Operating environment
Operating environment Temperature: 0 to 40°C/32 to 104°F
Humidity: 85% or less (no condensation)
Accessories
Supplied accessories
(may differ by country or area)

EN-EL15a Rechargeable Li-ion Battery, MH-25a Battery Charger, DK-17F Fluorine-Coated Finder Eyepiece, UC-E22 USB Cable, HDMI/USB Cable Clip, AN-DC18 Strap, BF-1B Body Cap

* Fewer pictures/shorter movies can be taken on a single charge with an EN-EL18 than an EN-EL18b/EN-EL18a, or with an EN-EL15 than an EN-EL15a.
  • XQD is a trademark of Sony Corporation.
  • The SD, SDHC and SDXC logos are trademarks of the SD-3C, LLC.
  • PictBridge is a trademark.
  • HDMI, the HDMI logo and High-Definition Multimedia Interface are trademarks or registered trademarks of HDMI Licensing LLC.
  • The Bluetooth® word mark and logos are registered trademarks owned by Bluetooth SIG, Inc. and any use of such marks by Nikon Corporation is under license.
  • Other products and brand names are trademarks or registered trademarks of their respective companies

 

 

Nikon FX-format, backside illumination sensor delivers superb 45-megapixel images at ISO 64-25600 (expandable to ISO 32-102400 equivalent) that are ideal for massive billboards and 8K monitors

153-point AF system with 99 cross sensors provides powerful subject acquisition in diverse situations

Approx. 9-fps high-speed captures 45-megapixel images with the optional MB-D18 Multi-Power Battery Pack*1 attached, or at 7 fps with the body only

Silent photography function*2 in live view mode utilizes an electronic shutter, causing no mechanical vibration or shutter release sound

Full-frame, 4K UHD video maximizes the capabilities of wide-angle NIKKOR lenses with minimal noise

Optical viewfinder with 0.75x magnification*3providing a wide field of view for easier subject confirmation, while keeping a sufficiently long eye point

Up to approx. 1840 still images*4 can be taken from a single charge of an EN-EL15a Rechargeable Li-ion Battery

Selamat Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-53: Sehat Keluargaku, Sehat Indonesiaku

Keluarga Sehat, Indonesia Sehat 

Tema HKN ke-53 tahun ini sejalan dengan Program Indonesia Sehat melalui Pendekatan Keluarga (PIS-PK) yang menekankan pada pentingnya peran keluarga dalam pembangunan kesehatan. Lingkungan keluarga memberikan dasar bagi seseorang untuk memiliki kebiasaan, perilaku dan gaya hidup yang sehat. Karena itu, karena itu upaya untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat pada masyarakat adalah dimulai dari lingkungan keluarga.

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang menjadi inti Pembangunan Kesehatan sesuai dengan UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009. Guna mendukung program tersebut, Kemenkes telah mengeluarkan Permenkes Nomor 39 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) pada dasarnya merupakan integrasi pelaksanaan program-program kesehatan baik upaya kesehatan perorangan (UKP) maupun upaya kesehatan masyarakat (UKM) secara berkesinambunganyang berfokus pada data dan informasi dari profil kesehatan keluarga.

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS)

Sebuah kenyataan bahwa kesehatan merupakan hal yang utama dan mendasar, dan keberhasilan program kesehatan tidak terlepas dari peran masyarakat dan dukungan lintas sektor terkait, maka terbitlah Inpres Nomor 1 tahun 2017 tentang GERMAS pada 27 Februari 2017. Selain untuk menurunkan penyakit, GERMAS yang diprakarsai oleh Presiden RI ini bertujuan pula untuk menghindarkan terjadinya penurunan produktivitas penduduk sekaligus menurunkan beban pembiayaan pelayanan kesehatan. Melalui GERMAS, diharapkan agar kerjasama antar sektor dan lintas program menjadi katalisator bagi masyarakat untuk mampu berperilaku hidup sehat, yang pada akhirnya dapat membentuk sumber daya manusia Indonesia yang unggul, pondasi bangsa Indonesia yang kuat.

Dalam kehidupan sehari-hari, menerapkan pola hidup yang sehat merupakan salah satu wujud dari revolusi mental. GERMAS mengajak masyarakat untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan yang tidak sehat. Menjadi mau melakukan langkah kecil perubahan pola hidup ke arah yang lebih sehat.

GERMAS mengangkat beberapa aktifitas, antara lain: Melakukan aktifitas fisik, Mengonsumsi sayur dan buah, Tidak merokok, Tidak mengonsumsi alkohol, Memeriksa kesehatan secara rutin, Membersihkan lingkungan, dan Menggunakan jamban. Pada tahap awal implementasinya, GERMAS secara nasional baru berfokus pada tiga kegiatan sederhana, yaitu: 1) Melakukan aktivitas fisik 30 menit per hari, 2) Mengonsumsi buah dan sayur; dan 3) Memeriksakan kesehatan secara rutin minimal 6 bulan sekali sebagai upaya deteksi dini penyakit. Alasannya, tiga kegiatan tersebut dapat dimulai dari diri sendiri dan keluarga, serta dapat dilakukan mulai saat ini juga, dan tidak membutuhkan biaya yang besar

Peluncuran Maskot GERMAS

Pada puncak peringatan HKN ke-53, Wapres RI didampingi Menkes meluncurkan maskot GERMAS yang bernama Si GABU. Karakternya terinspirasi dari Burung Garuda dengan figur yang menggemaskan namun tetap menggambarkan semangat untuk sehat. Sehingga dengan adanya maskot ini, diharapkan masyarakat akan lebih mengenal dan selalu ingat untuk menerapkan GERMAS. Maskot ini merupakan hasil karya dari anak bangsa, pemenang Lomba Desain Maskot GERMAS yang diselenggarakan oleh Kemenkes beberapa waktu lalu.

Sepeda Tour De Sabang-Jakarta 3000K Indonesia Sehat

Pada kesempatan yang sama, Menkes juga menyambut para peserta gowes yang mengiringi para pesepeda yang telah berhasil menaklukkan tantangan etape sepeda Tour De Sabang – Jakarta yang telah menempuh jarak 3.000 KM.

Diawali dari titik start yakni titik nol kilometer Sabang pada Sabtu, 14 Oktober 2017 lalu, Tour DeSabang-Jakarta 3000K Indonesia Sehat dibagi menjadi 20 etape yang dikelompokan menjadi 3 group etape, yaitu Group Etape A (Sabang – Tebing Tinggi 935,7 KM), Group Etape B (Tebing Tinggi – Jambi 1.104,7 KM) dan Group Etape C (Jambi – Jakarta 880,7 KM).

Berbagai Aktivitas Sehat Warnai Puncak HKN ke-53

Dimulai dengan kegiatan aktivitas fisik dengan senam bersama, juga ditampilkan senam peregangan secara massal. Senam peregangan ini merupakan salah satu aktifitas yang telah secara rutin diterapkan di lingkungan kantor Kementerian Kesehatan, yakni berupa remainder pada pukul 10.00 dan 14.00 WIB setiap harinya.

Selain itu, diselenggarakan juga karnaval sehat, serta bazaar buah, sayur dan ikan. Terdapat pula tenda pemeriksaan deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) melalui pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar perut, tekanan darah, pemeriksaan gula darah dan pemeriksaan kolesterol bagi masyarakat secara gratis.



 

This slideshow requires JavaScript.


Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes bersama
Tim Komunikasi Pemerintah Kemkominfo

Registrasi dan Identifikasi Kendaraan Bermotor

BPKB

Pasal 50

Persyaratan perubahan ranmor

  1. Persyaratan regident perubahan dan fungsi Ranmor
    1. Penerbitan BPKB yang mengalami perubahan nama pemilik tanpa perubahan alamat harus memenuhi persyaratan:
      1. mengisi formulir permohonan;
      2. melampirkan tanda bukti identitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 huruf b;
      3. melampirkan akte perubahan nama bagi badan hukum;
      4. melampirkan penetapan pengadilan bagi pemilik perorangan;
      5. BPKB
      6. STNK; dan
      7. hasil pemeriksaan cek fisik Ranmor.
    2. Persyaratan perubahan data BPKB atas dasar perubahan alamat pemilik Ranmor dalam wilayah Regident yang sama meliputi:
      1. mengisi formulir permohonan; dan
      2. melampirkan tanda bukti identitas:
        1. KTP di tempat yang baru bagi perorangan; atau
        2. akte perubahan alamat bagi badan hukum; dan
      3. surat kuasa dari pemilik yang pengurusan pendaftarannya dilakukan oleh kuasanya.
      4. BPKB;
      5. STNK; dan
      6. hasil Pemeriksaan Cek Fisik Ranmor.
    3. Penerbitan BPKB yang mengalami perubahan  nama dan alamat dalam satu wilayah Regident Ranmor harus memenuhi persyaratan:
      1. mengisi formulir permohonan;
      2. melampirkan tanda bukti identitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 huruf b;
      3. BPKB;
      4. STNK; dan
      5. hasil pemeriksaan cek fisik Ranmor.
    4. Persyaratan perubahan data BPKB atas dasar perubahan alamat pemilik atau mutasi Ranmor ke luar wilayah Regident meliputi:
      1. mengisi formulir permohonan;
      2. melampirkan tanda bukti identitas:
        1. KTP di tempat yang baru bagi perorangan; atau
        2. akte perubahan alamat bagi badan hukum;
      3. surat kuasa dari pemilik yang pengurusan pendaftarannya dilakukan oleh kuasanya;
      4. BPKB;
      5. STNK; dan
      6. hasil pemeriksaan cek fisik Ranmor.

Pasal 51

Persyaratan perubahan data BPKB atas dasar perubahan nomor Registrasi Ranmor meliputi:

  1. mengisi formulir permohonan;
  2. melampirkan  tanda  bukti identitas sebagaimana  dimaksud dalam Pasal 44 huruf b;
  3. BPKB;
  4. STNK;
  5. surat permohonan dari pemilik tentang nomor registrasi yang diinginkan; dan
  6. hasil pemeriksaan cek fisik Ranmor.

Pasal 52

Persyaratan perubahan data BPKB atas dasar perubahan fungsi Ranmor meliputi:

  1. mengisi formulir permohonan;
  2. melampirkan tanda bukti identitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 huruf b;
  3. BPKB;
  4. STNK;
  5. hasil pemeriksaan cek fisik Ranmor;
  6. surat izin penyelenggaraan angkutan umum dari instansi yang berwenang bagi perubahan fungsi dari Ranmor perseorangan menjadi Ranmor angkutan umum; dan/atau
  7. surat keterangan dari instansi yang berwenang bagi perubahan fungsi dari Ranmor angkutan umum menjadi Ranmor perseorangan.

Pasal 53

Persyaratan Regident Perubahan Fisik Ranmor

Persyaratan perubahan data BPKB atas dasar perubahan mesin dan/atau bentuk Ranmor meliputi:

  1. mengisi formulir permohonan;
  2. melampirkan tanda bukti identitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 huruf b;
  3. BPKB;
  4. STNK;
  5. Surat keterangan dari APM atau bengkel umum yang melaksanakan perubahan mesin dan/atau bentuk Ranmor;
  6. PIB untuk penggantian mesin baru dari impor atau faktur pembelian untuk penggantian mesin baru yang diproduksi dalam negeri;
  7. Sertifikat Uji Tipe dan SRUT; dan/atau
  8. hasil pemeriksaan cek fisik Ranmor.

Pasal 54

Persyaratan perubahan data BPKB atas dasar perubahan warna Ranmor meliputi:

  1. mengisi formulir permohonan;
  2. melampirkan tanda bukti identitas sebagaimana dimaksud pada Pasal 44 huruf b;
  3. BPKB;
  4. STNK;
  5. surat keterangan dari Agen Pemegang Merek (APM) atau bengkel umum yang melaksanakan perubahan warna Ranmor; dan
  6. hasil pemeriksaan cek fisik Ranmor.

Pasal 55

Persyaratan pemindahan kepemilikan ranmor:

Persyaratan perubahan data BPKB atas dasar perubahan warna Ranmor meliputi:

  1. mengisi formulir permohonan;
  2. melampirkan tanda bukti identitas sebagaimana dimaksud pada Pasal 44 huruf b;
  3. BPKB;
  4. STNK;
  5. surat keterangan dari Agen Pemegang Merek (APM) atau bengkel umum yang melaksanakan perubahan warna Ranmor; dan
  6. hasil pemeriksaan cek fisik Ranmor.

Pasal 56

  1. Penerbitan BPKB pemindahtangganan kepemilikan di dalam satu wilayah Regident Ranmor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 ayat (1) harus memenuhi persyaratan:
    1. mengisi formulir permohonan;
    2. melampirkan tanda bukti identitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 huruf b;
    3. tanda bukti pemindahtanganan kepemilikan Ranmor berupa:
      1. kuitansi pembelian bermeterai cukup bagi pemindahtanganan karena jual beli;
      2. risalah lelang Ranmor dan/atau putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap bagi pemindahtanganan karena lelang;
      3. akta hibah yang ditandatangani oleh pemberi hibah dan/atau para ahli waris bagi pemindahtanganan karena hibah;
      4. akte penyertaan bagi pemindahtanganan karena penyertaan Ranmor sebagai modal;
      5. akte penggabungan bagi pemindahtanganan karena penggabungan perusahaan berbadan hukum; atau
      6. surat keterangan kematian dan persetujuan para ahli waris atau akte notaris bagi pemindahtanganan karena warisan;
    4. BPKB;
    5. STNK; dan
    6. hasil pemeriksaan cek fisik Ranmor.
  2. Penerbitan BPKB pemindahtangganan kepemilikan ke luar wilayah Regident Ranmor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 ayat (1) harus memenuhi persyaratan:
    1. mengisi formulir permohonan;
    2. melampirkan tanda bukti identitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 huruf b;
    3. tanda bukti pemindahtanganan kepemilikan Ranmor berupa:
      1. kuitansi pembelian bermeterai cukup bagi pemindahtanganan karena jual beli;
      2. risalah lelang Ranmor dan/atau putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap bagi pemindahtanganan karena lelang;
      3. akta hibah yang ditandatangani oleh pemberi hibah dan/atau para ahli waris bagi pemindahtanganan karena hibah;
      4. akte penyertaan bagi pemindahtanganan karena penyertaan Ranmor sebagai modal;
      5. akte penggabungan bagi pemindahtanganan karena penggabungan perusahaan berbadan hukum; atau
      6. surat keterangan kematian dan persetujuan para ahli waris atau akte notaris bagi pemindahtanganan karena warisan;
    4. tanda bukti penerimaan penyerahan BPKB dan STNK dari unit pelaksana regident asal;
    5. tindasan surat pengantar mutasi; dan
    6. hasil pemeriksaan cek fisik Ranmor.
  3. Penerbitan BPKB pemindahtangganan kepemilikan untuk Ranmor bekas lembaga internasional atau kedutaan harus memenuhi persyaratan:
    1. mengisi formulir permohonan;
    2. melampirkan tanda bukti identitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 huruf b;
    3. kuitansi pembelian bermeterai cukup;
    4. surat keterangan pelepasan hak dari kedutaan atau lembaga internasional yang bersangkutan;
    5. menyerahkan BPKB dan fotokopi STNK CD/CC atau lembaga internasional;
    6. tanda bukti pelunasan bea masuk bagi pemindahtanganan Ranmor yang diperoleh dari impor dengan fasilitas penangguhan atau pembebasan bea masuk, atau Formulir C;
    7. surat rekomendasi dari kementerian luar negeri untuk kendaraan kedutaan dan surat rekomendasi sekretariat negara untuk Ranmor lembaga internasional;
    8. surat hasil penelitian keabsahan surat keterangan pengimporan Ranmor yang dikeluarkan oleh Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah, atau Kepala Korps Lalu Lintas Polri bagi Ranmor yang masuk melalui wilayah pabean DKI Jakarta; dan
    9. hasil pemeriksaan cek fisik Ranmor.
  4. Penerbitan BPKB pemindahtangganan kepemilikan untuk Ranmor bekas taksi yang menggunakan fasilitas penangguhan bea masuk harus memenuhi persyaratan:
    1. mengisi formulir permohonan;
    2. melampirkan tanda bukti identitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 huruf b angka 1;
    3. kuitansi pembelian bermeterai cukup;
    4. BPKB dan fotokopi STNK;
    5. surat keterangan pelepasan hak dari perusahaan yang bersangkutan;
    6. bukti pelunasan bea masuk dari Ditjen Bea dan Cukai atau Formulir C;
    7. surat hasil penelitian keabsahan surat keterangan pengimporan Ranmor yang dikeluarkan oleh Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah, atau Kepala Korps Lalu Lintas Polri bagi Ranmor yang masuk melalui wilayah pabean DKI Jakarta; dan
    8. hasil pemeriksaan cek fisik Ranmor.

SUMBER : BPKB.NET

Prosedur Pemindahtanganan Dalam Wilayah Reg Ident dan Penggantian BPKB

Prosedur BPKB

Pasal 68
Prosedur Pemindahtanganan Dalam Wilayah Reg Ident dan Penggantian BPKB

  1. Proses pemindahtanganan dalam satu wilayah Reg Ident dilakukan oleh kelompok verifikasi dan identifikasi
  2. Menerima berkas permohonan selanjutnya:
    1. Meneliti kelengkapan dokumen-dokumen persyartan, asal usul, kelaikan kendaraan, dan kepemlikan kendaraan
    2. Cek kabsahan berkas ke yang mengeluarkan dok
    3. Mecocokan hasil pemeriksaan cek fisik kendaraan dengan berkas
    4. Pengecekan kesesuaian antar dokumen, asal usul dan kepemilikan kendaraan
  3. Berkas tidak lengkap kembalikan ke pemohon
  4. Berkas lengkap dan sah
    1. Maka pilah
      1. Berkas untuk penerbitan BPKB
      2. Berkas untuk penerbitan STNK
    2. Menyampaikan ke kelompok kerja pendaftakendaraan BPKB
    3. Menyampaikan ke kelompok kerja pendaftakendaraan STNK, pendataan dan verifikasi di SAMSAT
    4. Memberitahukan ke kelompok kerja penerima PNBP

Pasal 69
Penerimaan PNBP

  1. Menerima pembayaran PNBP sesuai Perkap No 50 tahun 2010
  2. Memberikan tanda terima pembayran yg berisi ident pemilik ranmor, nomor urut pendatran
  3. Pemohon mengajukan permohonan penerbitan STNK ke SAMSAT

Pasal 70
Kelompok Kerja Pendaftaran

  1. Setelah menerima berkas persyaratan melakukan:
    1. Pemasukan data perubahan nama dan alamat pemilik
    2. Pemanggilan data iden ranmor dan pemilik bagi pengantian karena rusak
    3. Paraf Kartu Induk
  2. Menyampaikan berkas kepada Kelompok Kerja
    1. Pernerbitan BPKB
    2. Pengarsipan
    3. Pendaftaran, pendataan dan verifikasi ke SAMSAT
    4. Pencetakan TNKB

Pasal 71
Kelompok Kerja Penerbitan Dan Pemberian BPKB

  1. Setelah menerima berkas melakukan:
    1. Pemasukan tanda tangn elektronik
    2. Pecetakan dan penerbitan BPKB
    3. Pengajuan ke verifikator
    4. Penyerahan BPKB yang sdh ditnada tngan pd pemohon
  2. Penyerahan BPKB, miminta fotokopi STNK dan meminta tanda tangan bukti terima

Pasal 72
Kelompok Kerja Pengarsipan

Menerima dan berkas data berkas arsip BPKB melakukan :

  1. Pemisahan hal BPKB lama atau rusak yang muat Ident Ranmor dan Pemilik hal lain
  2. Pemusnahan hal lain dari BPKB lama dg penghancur kertas
  3. Penggabungan hal BPKB yg muat ident ran dan pemilik
  4. Pencatatan dan pendataan arsip dan
  5. Penataan dan penyimpanan

SUMBER : BPKB.NET

Mengapa tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan ?

Pada tanggal 10 November 1945 terjadi pertempuran di Surabaya yang merupakan pertempuran besar antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Inggris. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.
Setelah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda.
Walaupun begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby (Pimpinan Tentara Inggris untuk Jawa Timur) pada 30 Oktober 1945.

Kematian Jendral Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan pengganti Mallaby yaitu Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh mengeluarkan Ultimatum 10 November 1945 yang meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA serta ancaman akan menggempur kota Surabaya dari darat, laut, dan udara apabila orang orang Indonesia tidak mentaati perintah Inggris. Mereka juga mengeluarkan instruksi yang isinya bahwa semua pimpinan bangsa Indonesia dan para pemuda di Surabaya harus datang selambat-lambatnya tanggal 10 November 1945, pukul 06.00 pagi pada tempat yang telah ditentukan. Namun ultimatum itu tidak ditaati oleh rakyat Surabaya, sehingga terjadilah pertempuran Surabaya yang sangat dahsyat pada tanggal 10 November 1945, selama lebih kurang tiga minggu lamanya.

Medan perang Surabaya kemudian mendapat julukan “neraka” karena kerugian yang disebabkan tidaklah sedikit. Pertempuran tersebut telah mengakibatkan sekitar 20.000 rakyat Surabaya menjadi korban, sebagian besar adalah warga sipil. Selain itu diperkirakan 150.000 orang terpaksa meninggalkan kota Surabaya dan tercatat sekitar 1600 orang prajurit Inggris tewas, hilang dan luka-luka serta puluhan alat perang rusak dan hancur. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban ketika itu serta semangat membara tak kenal menyerah yang ditunjukkan rakyat Surabaya, membuat Inggris serasa terpanggang di neraka dan membuat kota Surabaya kemudian dikenang sebagai kota pahlawan. Selanjutnya tanggal diperingati setiap tahunnya sebagai sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan pengorbanan para pahlawan dan pejuang.

==========================================================

Logo resmi Hari Pahlawan tahun 2017 berbentuk bulat dengan gambar orang ditengah lingkaran dengan membawa bendera merah putih dan berdasi merah serta ada tulisannya hari pahlawan 2017 dan tulisan Tema ” Perkokoh Persatuan Membangun Negeri”

UNDUH LOGO

logo hari pahlawan 2017

contoh SPANDUK PERINGATAN Versi corelDRAW_X4

HARI PAHLAWAN 2017

Untuk panduan atau Pedoman Peringatan Hari Pahlawan tahun 2017 bisa di Download DISINI

ETIKA DAN MORAL PENELUSURAN GUA

 

 

GENERASI MICIN

Bahan penyedap makanan biasanya digunakan untuk campuran masakan supaya menguatkan rasa masakan. Vetsin atau MSG (monosodium glutamate) biasa dicampurkan dalam berbagai masakan. Masyarakat Indonesia gemar menambahkan MSG ke dalam campuran makanan seperti bakso, soto, sup dan tumisan. Tak ayal jika masyarakat Indonesia selalu menyediakan vetsin sebagai salah satu bumbu yang wajib ada di rumah.

Di Indonesia nama merek untuk vetsin sangat banyak ragamnya. Ajinomoto merupakan nama merek dari salah satu produk penyedap makanan yang berupa vetsin atau MSG. Biasanya vetsin ini berwarna putih dan berbentuk kristal yang bisa larut. MSG merupakan saah satu jenis garam yang mengandung natrium yang sebenarnya tidak berbahaya jika dikonsumsi setiap hari asalkan dengan takaran yang tidak berlebihan.

1. Menyuburkan Tanaman

Ajinomoto bisa membantu menyuburkan tanaman. Kandungan natrium dalam bumbu ini mempengaruhi tingkat kesuburan tanaman tersebut. Caranya dengan melarutkan ajinomoto dengan air dan menyiramkan pada tanaman secara teratur. Hasilnya akan terlihat dengan daun yang lebih hijau, daun yang tumbuh lebih lebat dan tanaman menjadi lebih sehat. Natrium yang terkandung juga membuat proses pertumbuhan tanaman menjadi lebih cepat sehingga batang tanaman menjadi cepat besar.

2. Memenuhi Kebutuhan Nutrisi Tanaman

Tanaman juga memerlukan nutrisi untuk dapat hidup. Nutrisi pada tanaman biasanya didapatkan dari pupuk yang kita berikan atau zat hara yang terkandung dalam tanah. Namuan ada kalanya pupuk yang kita berikan tidak cocok dengan tanaman sehingga tanaman tidak berkembang dengan baik. Caranya adalah dengan menyemprotkan larutan MSG Ajinomoto ke tanaman sebagai pupuk untuk memenuhi nutrisi tanaman. Ajinomoto juga bisa mempengaruhi munculnya bunga pada tanaman lebih cepat.

3. Meningkatkan Kadar Air

Natrium dalam Ajinomoto mampu mencegah terjadinya resistensi air atau mencegah tanaman kekurangan air terutama saat musim kemarau. MSG Ajinomoto membantu mengoptimalkan kerja tanaman dalam penyerapan air saat musim kering. Dengan adanya air maka nutrisi yang diperlukan tanaman bisa diserap maksimal yang akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman menjadi lebih subur.

4. Terhindar dari Pupuk Kimia Berbahaya

MSG Ajinomoto bisa digunakan sebagai alternatif pupuk yang ramah lingkungan. Terkadang pupuk kimia yang dijual dipasaran untuk tanaman mengandung bahan kimia berbahaya yang bisa merusak komposisi tanah dan lingkungan. Tanaman yang rutin disiram dengan MSG Ajinomoto memiliki tingkat kesuburan dan pertumbuhan yang lebih baik pada minggu ketiga dan minggu keempat dibanding tanaman yang menggunakan pupuk kimia biasa.

Ajinomoto memiliki senyawa C, H, O, N dan Na yang merupakan senyawa yang diperlukan sebagai nutrisi perkembangan tanaman. Kandungan N atau nitrogen memiliki manfaat untuk merangsang pertumbuhan bgaian tanaman, seperti batang, cabang dan daun. Juga membantu dalam proses pembentukan protein dan lemak yang dibutuhkan tanaman dalam proses pertumbuhan.

5. Jangan Digunakan pada Tanaman Buah

Manfaat yang banyak dalam MSG Ajinomoto untuk tanaman ternyata tidak bisa digunakan pada semua jenis tanaman. Tanaman buah tidak boleh diberikan pupuk larutan MSG Ajinomoto ini karena akan mempengaruhi hasil buah. Hasil buah pada tanaman buah tidak akan segar jika menggunakan MSG Ajinomoto. Hal ini karena tanaman buah memerlukan pupuk yang memiliki nutrisi yang jauh lebih banyak daripada tanaman bunga atau yang lain.